Selasa, 10 Juli 2012

cerita haru" anak tiri "



Aku tinggal bersama ibu dan kakak perempuanku, karena sejak kecil ayahku sudah meninggal. Entah kenapa rasanya begitu berbeda  padaku. Ibuku selalu mendahulukan semua kepentingan kakakku dari pada aku. Ibuku selalu menyuapin kakakku, mencium kakakku, memeluknya disaat ia sakit. Tapi tidak denganku, Ibu selalu menatapku dengan penuh kebencian, selalu menyuruh pembantu yang mengurusiku ketika aku sakit dan mengurus semua keperluanku. Apalagi ketika ku lihat album keluarga, tak ku jumpai satu pun foto ibu yang memelukku. Ibu tersenyum untuk kakak, Ibu memeluk kakak.
Aku bahagia meskipun begitu, kakakku sangat menyayangiku. Kini aku sudah menginjak dewasa. Kakakku menjadi wanita karier yang sukses, sedangkan aku hanya kerja menjadi seorang pelayan di sebuah restoran ternama. Karena memang aku tidak kuliah, sedangkan kakakku kuliah. Aku harus kerja banting tulang untuk mnyelesaikan kuliahku, untungnya kakakku selalu memberikan uang yang lebih padaku.
Kini umurku sudah 24 tahun, aku berkenalan dengan seorang lelaki pengusaha yang cukup sukses saat itu. Namanya Raihan, yang ternyata adalah anaknya pemilik restoran tempatku bekerja. Ayahnya sangat baik padaku, aku sering bercanda tawa dan bercerita hal2 menyenangkan pada  Ayahnya yang terlihat lebih cocok jadi pelawak dari pada pengusaha itu. Bahkan dia berniat menjadikanku manager di restorannya itu, tapi aku lebih suka jadi pelayan saja yang bisa sekalian menyelesaikan kuliahku.
Akhirnya aku dan Raihan menjadi semakin dekat dengan restu dari ayahnya itu. Dia ingin segera melamarku, tetapi aku ingin kuliahku selesai dulu dan membuat ibuku bangga padaku. Dua tahun sudah kami menjalin hubungan dan kini kuliahku telah selesai, aku diwisuda dengan nilai terbaik tetapi tetap saja Ibuku tidak mau memelukku dan memberikan ucapan selamat padaku. Raihan pun melamarku, sambil menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini pada ibuku. Dan ternyata Ibuku memang benar tak menyetujui pernikahanku sebelum kakakku menikah.
Dua bulan terlewatkan, hingga kakakku bercerita padaku dan Ibuku bahwa dia menyukai seorang lelaki yang sangat baik. Ibuku langsung menanyakan alamatnya dan menanyakan pada lelaki itu dan keluarganya untuk kebersediaannya meminang kakakku. Kata Ibuku keluarga lelaki itu juga berniat meminang putrinya. Sungguh hal yang tidak terduga, karena seminggu lagi keluarga lelaki itu akan datang kerumah dan meminang kakakku kemudian dilangsungkan acara pernikahan mereka. Keluarga itu adalah keluarga terpandang yang sangat melihat latar belakang keluarga dari garis keturunan jika ingin membina hubungan keluarga dengan mereka.
Malam itu, aku baru pulang kerja dan segera bersiap diri karena kakakku akan kedatangan tamu special malam ini. Pukul 20.30  tamu yang dinantikan datang juga,aku membantu kakakku mempersiapkan dirinya. Memakaikannya gaun yang sangat indah membuatnya terlihat begitu anggun dan cantik. Perlahan ku turuni tangga bersama kakakku, sesampai di bawah betapa terkejutnya aku. Bahwa yang datang adalah Raihan beserta ayah dan keluarganya. Mereka kah yang akan  melamar kakakku ? Raihan kah yang akan menikahi kakakku ?? Ketika saling memperkenalkan diri, keluarga Raihan juga terkejut bahwa Ibuku melamar untuk kakakku bukan untukku. Lalu mereka menjelaskan bahwa yang ingin mereka lamar adalah diriku bukan kakakku, karena merasa ada kesalah pahaman.Akhirnya mereka berpamitan pulang.
Kakakku langsung naik ke kamarnya dan menangis, aku ingin sekali meminta ma’af karena aku tak tahu bahwa kakakku juga mencintai Raihan. Namun, Ibuku menarik tanganku dengan keras. Beliau bilang ingin bicara padaku
“Sudah puaskah kau hancurkan kebahagiaan kakakmu,orang yang sangat menyayangimu. Dari dulu kau selalu dapatkan apa yang kau mau, tidak seperti kakakmu”
“ Ibu, kenapa ibu bicara seperti itu padaku”
“jangan pernah panggilku lagi dengan sebutan Ibu, karena aku bukan ibumu dan kau bukan anakku. Kita tidak ada ikatan darah sama sekali”
“ Ibu, Ibu jangan berkata seperti itu..aku ini anak Ibu..Anak kandung Ibu kan ??.. aku mohon bu, jgn berkata seperti itu padaku “
“ Dengar, kau sudah dewasa sekarang dan kau harus tahu bahwa kau itu adalah anak hasil perselingkuhan suamiku dengan Ibumu. Ibumu yang telah merebut suamiku ayah Dina. Sejak kecil orang yang kamu panggil kakak itu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ayah. Dan itu semua karena Ibumu dan kamu. Pergi kau dari sini, aku tidak mau melihat wajahmu lagi disini ! .”
“ Cukup bu, aku mohon bu jgn katakan itu lagi padaku. Ibu adalah Ibuku sampai kapanpun”
Aku langsung berlari ke kamar kak Dina dan meminta ma’af padanya.
“ kak, ma’afkan aku. Sungguh aku tak bermaksud membuat semua ini terjadi. Kakak tidak perlu khawatir. Raihan hanya milik kakak”
“ tidak apa2 des, kalow memang desi mencintai Raihan dan Raihan juga mencintai Desi kakak akan dukung kalian dan mencoba bicara pada Ibu” jawab Dina.
“ Tidak kak Dina, aku tidak pernah mencintai Raihan. Kami hanya berteman. Kakak pantas kok mendampingi dia”
Aku langsung pergi menaiki sepeda kayuhku,, Mengejar mobil Raihan yang telah melaju itu. Dengan jarak tempuh sekitar 10 km sampailah aku di depan rumah Raihan.Aku mengetuk pintu rumah Raihan dan bertemu dengan Ayah Raihan.
“ Paman, apa salah jika aku dilahirkan tanpa ayah dan Ibu ? Apa salah jika ada orang baik yang merawat dan membesarkanku,menyayangiku dan menyekolahkanku ? Aku mohon paman jangan batalkan peminangan kakakku. Selama aku hidup, aku selalu membuat Ibuku susah dan sedih, tak pernah sekalipun Aku membuat Ibuku tersenyum dan bangga kepadaku. Padahal aku tahu jika Ibuku mau, Beliau bisa membuangku kejalanan yang mungkin aku tak akan tumbuh hingga dewasa ini. Namun beliau tetap memilih merawatku dan menyayangiku”
“ kamu anak yang baik Desi, Ibumu pasti bangga memiliki anak sepertimu, paman ingin bertanya satu hal padamu”
“ apa itu paman “
“ Apa kamu mencintai Raihan ??”
“ tidak Paman”
“Apa kamu yakin, kamu tidak mencintai Raihan ?”
“ iya paman, Aku tidak mencintai Raihan”
“ Baiklah kalau begitu, nanti akan aku telp Ibumu untuk membicarakan pernikahan kakakmu”
“ Terima kasih banyak paman “ jawabku sambil bersujud di kakinya.
“ Untuk mendapatkan anak tiri sepertimu, Paman rela kehilangan 10 anak kandung sekalipun nak”.
Sepulang dari rumah Raihan, ku katakan pada Ibu bahwa besok Ayahnya Raihan akan kesini membicarakan hari pernikahan kak Dina. Entah kenapa untuk pertama kalinya, Ibuku memelukku dan untuk pertama kalinya juga Beliau berkata menyayangiku.
“ Ma’afkan aku Ibu, aku selalu membuat Ibu dan kak Dina susah. Terima kasih Ibu telah merawat dan membesarkanku selama ini. Jika Ibu tak ingin aku ada disini lagi, aku akan pergi kok bu. Ma’af karena kehadiranku hidup Ibu merasa sengsara, Aku menyayangi Ibu” ucapku sambil memeluk Ibuku.
“ Tidak sayang,  Kamu anak Ibu. Anak kandung Ibu. Ibu tidak akan sanggup kehilangan anak yang selalu menyayangi ibu sepertimu”

Tidak ada komentar: