Rabu, 30 Juli 2014

cahaya meredup

Pernahkah berhenti disuatu titik terletih dalam hidupmu !
ketika mulai merasa tak ada yang perduli,
merasa tak ada yang mengerti,
merasa tak dihargai,
merasa tak dibutuhkan,
merasa benar-benar sendiri,
Iyaw..... ! mereka melihatmu menangis namun hanya diam
mereka melihatmu terjatuh namun hanya untuk melihat
mereka melihatmu terluka namun memalingkan muka.
Mereka mendengarmu merintih namun berlalu begitu saja

Jumat, 04 Oktober 2013

Kau yang pernah ku banggakan



Selalu terlintas dibenakku, agar kelak kau jadi lebih baik dariku
Selalu terngiang ditelingaku, agar jalan hidupmu tak sesuram kehidupanku
Yang harus kerja kesana kemari, siang malam disaat mereka terlelap hanya demi cita
Selalu kutanam dalam ingatanku, agar dapat kau raih cita-cita seperti inginmu
Bukan keinginan mereka, yang harus kau rangkai menjadi cita
Selalu ku nomor satukan dirimu, agar kelak kau pun selalu jadi yang nomor satu
Selalu ku wujudkan secara perlahan setiap inginmu, agar kau merasa tercukupi tanpa mencari
Tak pernah aku merasa kehilangan, sekalipun semua selalu untukmu !
Kini, kau telah dewasa . . . .
Aku bangga, pernah menimangmu dalam air mataku
Aku bangga, telah menyertaimu tumbuh dewasa
Semoga kini kau tak sepertiku, yang hanya menjadi beban hidup bagi mereka
Yang melangkahpun terasa berat tanpa seorang teman
Yang mencoba kuat meniti langkah pada jalan yang sama sekali tak ingin ku lewati
Yang tak punya tempat untuk bersandar dikala kerapuhan menenggelamkan
Jangan . . . .
Jangan pernah tumbuh di jalan ini,
yang setiap saat harus bangkit dan mengais rejeki ,
demi langkah-langkah yang sempat tersendat
Yang harus melupakan lelahnya raga, demi jalan sebuah cita yang terlanjur dilalui
Berbeda denganmu . . . .
Kau telah tumbuh dimasa yang tak lagi kekurangan
Dalam keluarga yang kini telah sadar pendidikan
Dalam keluarga yang kini mengenal cinta dan kebersamaan
Namun, baru kulihat kini....
Kenapa sifat itu harus menurun padamu !
Sifat keegoisan, yang hanya peduli pada diri sendiri
Sifat ketamak’an, yang selalu inginkan sesuatu yang lebih
Semoga kau tetap punya kedewasaan dalam melangkah
Dan menjadikanku bangga karena telah menimangmu hingga dewasa.

Jumat, 06 September 2013

Kasih sayang yang ku Tunggu



Ayah,
Siapakah aku ini !
Kenapa tak pernah sama !
Dari kecil tak sekalipun kau meluangkan waktu bercanda denganku
Aku selalu menyertaimu bekerja dalam gendongan ibuku
Ketika aku sakit,
Jangankan untuk menjagaku.. mendekatpun kau enggan
Atau sekedar  menyentuhkan tanganmu ke dahiku...itu tak pernah !
Ketika aku demam tinggi,
Disisiku hanya terlihat wajah ibuku
Hingga pagi hari aku tetap menggigil, selalu ada wajah ibu.
Diantara kesadaranku yang mulai menghilang
Kurasakan ketegaran seorang ibu berlari menggendongku, entah kemana !
Hingga terakhir ku dengar adzan subuh, ibu tak juga berhenti berlari
Entahlah apa yang terjadi !.................
Ketika aku perlahan merasakan jarum-jarum itu menusuk lengan dan kakiku
Dan yang ku lihat hanyalah wajah ibuku,,
Waktu aku mulai masuk sekolah
Kau selalu meneriakkiku “nakal”
ketika aku menangis di sekolah karena tak punya teman
kau meneriakiku “ bodoh”
ketika aku belum bisa membaca
Apalagi yang ku ingat selain suara keras keluhmu ketika mengambil raportku setiap waktu
Sering kau memukuliku hingga kayu itu habis patah,
Karena aku asyik bermain bersama teman- temanku.
Kau menamparku setiap saat ketika aku menangis
Bahkan belum sempat ku rasakan kasih sayangmu... ada dia !
Ketika dia mulai dewasa...akupun begitu !
Aku selalu bertanya pada diriku ! kenapa beda . . . . .
Aku sering melihatmu bercanda dengannya
Mengantarnya ke sekolah
Mengambil raportnya dengan semangat
Bahkan tawa yang tak pernah kulihat untukku,
Dia yang selalu kau banggakan
Dia yang selalu benar untukmu
Dia yang selalu hebat bagimu
Sempat kulihat airmatamu mengalir karena kegagalannya
Kau selalu ada untuknya, memenuhi semua inginnya...
Sedangkan aku harus berjuang sendiri demi cita-citaku,, bahkan sekedar dukungan tak aku dapatkan
Berlari kesana kemari demi merangkai cita
Aku terjatuh dan bangkitpun sendiri..
Sungguh bukan marah karena kau bedakan aku dengan dia,
Hanya saja “aku teramat rindu kasih sayangmu “
Aku menunggu sejak aku bisa berkata “ayah” sampai sekarang selangkah lagi aku akan menikah.